Dua orang preman dan seorang Timor-Timur bertemu di penjara Cipinang, mereka semua sudah dijatuhi hukuman. Preman yang satu mengatakan dia dihukum 10 tahun karena mencoba membunuh seorang cukong. Tapi ia merasa beruntung karena pembunuhan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa kena 20 tahun.
Preman yang satu lagi bilang dia dihukum 5 tahun karena mencoba memperkosa istri penjual bakso, tapi dia merasa beruntung karena perkosaan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa masuk 10 tahun.
Orang Timor Timur bercerita dia dihukum 13 tahun karena kedapatan naik motor tanpa menyalakan lampu. Tapi untung, katanya, itu terjadi bukan waktu malam hari.
Sabtu, 13 Juli 2013
Ingin Sampaikan Kabar Gembira
Hari Rabu pekan lalu seorang perempuan cantik datang ke Departemen Penerangan. Ia menemui petugas penerima tamu dan mengatakan niatnya: mau ketemu Menteri Penerangan Harmoko. Petugas pun memberitahu bahwa Harmoko sudah bukan Menpen.
Perempuan cantik itu kemudian pergi. Tapi satu jam kemudian dia muncul. “Saya ingin menghadap Pak Harmoko,” katanya kepada petugas yang sama. Dan petugas yang sama, dengan sedikit heran, tetap menerangkan bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menpen lagi.
Perempuan itu pun sekali lagi pergi. Anehnya, setengah jam kemudian dia muncul kembali ke petugas yang sama dan mengatakan hal yang sama: mau ketemu Pak Harmoko. Para petugas mulai curiga dan menganggap ada yang aneh di sini. Maka mereka melapor ke atasan. Dan laporan sampai ke Dirjen Subrata.
Karena jadi ingin tahu, Subrata menunggu sampai perempuan cantik itu muncul lagi. Benar juga. Si Dia datang, dan kembali meminta mau ketemu “Pak Harmoko, Menteri Penerangan”. Kali ini Subrata yang menerangkan, “Lho, kan Ibu sudah beberapa kali datang tadi, dan sudah berkali-kali kami beritahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Kok datang lagi, datang lagi?”
Jawab perempuan itu, “Itu dia, Pak. Saya datang berkali-kali supaya berkali-kali pula saya dengar kabar gembira itu.”
Perempuan cantik itu kemudian pergi. Tapi satu jam kemudian dia muncul. “Saya ingin menghadap Pak Harmoko,” katanya kepada petugas yang sama. Dan petugas yang sama, dengan sedikit heran, tetap menerangkan bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menpen lagi.
Perempuan itu pun sekali lagi pergi. Anehnya, setengah jam kemudian dia muncul kembali ke petugas yang sama dan mengatakan hal yang sama: mau ketemu Pak Harmoko. Para petugas mulai curiga dan menganggap ada yang aneh di sini. Maka mereka melapor ke atasan. Dan laporan sampai ke Dirjen Subrata.
Karena jadi ingin tahu, Subrata menunggu sampai perempuan cantik itu muncul lagi. Benar juga. Si Dia datang, dan kembali meminta mau ketemu “Pak Harmoko, Menteri Penerangan”. Kali ini Subrata yang menerangkan, “Lho, kan Ibu sudah beberapa kali datang tadi, dan sudah berkali-kali kami beritahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Kok datang lagi, datang lagi?”
Jawab perempuan itu, “Itu dia, Pak. Saya datang berkali-kali supaya berkali-kali pula saya dengar kabar gembira itu.”
Jangan di Depan Umum
Habibie selesai dioperasi jantung dengan sukses di Jerman (habis, di mana lagi). Dia pulang terbang ke Jakarta dengan Lufthansa. Sampai di bandara Cengkareng dia lihat, dari jendela pesawat , bahwa sudah banyak para pengagumnya menanti. Baik dari kalangan KMI mau pun dari BPPT.
Habibie tahu bahwa orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga nesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak. Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”
Habibie tahu bahwa orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga nesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak. Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”
Tentara Terkuat
Menurut seorang analis militer Singapura, angkatan bersenJata Indonesia adalah kekuatan militer paling kuat di dunia. Angkatan Darat-nya dengan mudah mengalahkan demonstran, Angkatan Udara-nya selalu berhasil membidik udara kosong, dan Angkatan Lautnya melumpuhkan kekuatan bonek. Sementara itu Kepolisian-nya dengan cepat bisa merobohkan para pemain bola dengan gas airmata.
Cara Keledai Membaca
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya
dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu
membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat
hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah,"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas,"Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab,"Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Nasrudin. "Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca." Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"
Nasrudin berkisah,"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar." "Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas,"Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"
Nasrudin menjawab,"Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan ?"
"Ora Usah Melu Macam-macam"
Ada suatu daerah di Jawa Tengah yang mayoritas berkultur nahdliyin (NU).
Penduduk setempat sehari-sehari mengamalkan amaliah NU seperti
tahlilan, qunut, wirid dan lain-lain. Aktivitas organisasi NU dan
banom-banom-nya pun tumbuh subur termasuk banom pelajarnya, IPNU (Ikatan
Pelajar NU).
Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.
Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho?? (Alf)
Alkisah, di daerah tersebut, ada satu keluarga yang baru saja kehilangan sang ayah. Sebelum meninggal, si ayah tersebut berpesan kepada istrinya agar menjaga Nanang (bukan nama sebenarnya) putra semata wayangnya yang baru duduk di kelas X madrasah aliyah agar tetap berpegang pada ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan tidak terpengaruh teman-temannya dari kota yang sering mengajaknya ikut pengajian sel tertutup seperti yang seringkali dipraktekkan kaum muda Islam di perkotaan. Intinya, sang ayah berpesan agar putranya tersebut dapat mengikuti jejaknya menjadi aktivis NU dengan bergabung ke IPNU.
Menjelang tahun ajaran berakhir, tiba-tiba Nanang bertanya pada ibunya, ”Bu, aku mau naik ke kelas XI Aliyah, tapi aku bingung dengan pilihanku, masuk IPA atau IPS ya?”.
Sang ibu pun menjawab, ”Ora usah bingung-bingung le, ingat pesan bapakmu dulu, ora usah melu (ikut) macam-macam, IPA atau IPS, melu IPNU aja le”, tandas sang Ibu. Lho?? (Alf)
Kecap dan Jeruk Nipis
"Pengobatan alternatif" demikian Salim menyebutnya, "Bila Anda batuk,
maka minumlah perasan jeruk nipis dicampur kecap. Sementara, jika Anda
mencret dan diare, minumlah teh pahit yang kental"
Dan alhamdulillah, lepas apakah uji klinis membenarkan pengobatan alternatif tersebut, para santri selama ini sudah merasakan keampuhan dan khasiatnya. Terkecuali Zaidun. Sudah dua hari Zaidun
terserang batuk, dan Salim sudah menganjurkannya meminum campuran jeruk nipis-kecap. Namun, virus batuk itu belum juga pergi darinya.
Sebenarnya, Zaidun telah melaksanakan saran dari Salim, hanya saja caranya berbeda. Jikalau Salim menganjurkannya memeras air jeruk nipis langsung dicampur dengan kecap, Zaidun malahan pergi ke warung Bang Ilham untuk memesan nasi goreng plus es jeruk. Logikanya, menurut Zaidun, "Nutrisi yang terkandung dalam jeruk nipis tidak akan hilang ketika dicampur es dan gula pemanis. Dan di waktu yang sama, nasi goreng Bang Ilham menggunakan kecap". Ah, ada-ada saja. (msi)
Dan alhamdulillah, lepas apakah uji klinis membenarkan pengobatan alternatif tersebut, para santri selama ini sudah merasakan keampuhan dan khasiatnya. Terkecuali Zaidun. Sudah dua hari Zaidun
terserang batuk, dan Salim sudah menganjurkannya meminum campuran jeruk nipis-kecap. Namun, virus batuk itu belum juga pergi darinya.
Sebenarnya, Zaidun telah melaksanakan saran dari Salim, hanya saja caranya berbeda. Jikalau Salim menganjurkannya memeras air jeruk nipis langsung dicampur dengan kecap, Zaidun malahan pergi ke warung Bang Ilham untuk memesan nasi goreng plus es jeruk. Logikanya, menurut Zaidun, "Nutrisi yang terkandung dalam jeruk nipis tidak akan hilang ketika dicampur es dan gula pemanis. Dan di waktu yang sama, nasi goreng Bang Ilham menggunakan kecap". Ah, ada-ada saja. (msi)
Langganan:
Postingan (Atom)