Tampilkan postingan dengan label Guyonan Gusdur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guyonan Gusdur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

Dai kok Menangkap Imam

“Coba saya tanya, adakah dalil yang membolehkan seorang dai menangkap seorang imam?

Tapi, ini benar-benar terjadi di Indonesia. Dai yang menangkap itu adalah Da’i Bachtiar (Kapolri saat itu, Red.) dan yang ditangkap adalah Imam Samudra,” kata Gus Dur terkekeh.

Topi Yahudi

Tahun 80-an, Jalaluddin Rahmat bercerita, Gus Dur penah bikin Presiden Iran Rafsanjani tertawa. Tahun 80-an juga, Gus Dur pernah bikin Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt tertawa ngakak, yang cerita Nurcholis Madjid.
Kita tahu, Gus Dur juga bikin Presiden Clinton terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Presiden Prancis Jacques Chirac pernah tertawa juga mendengar Gus Dur bercerita tentang Anggur Mukti Ali. Ratu Beatrix juga pernah dibikin ketawa oleh Gus Dur.
Gus Dur, kata Gus Mus, berhasil membuat Raja Saudi yang terkenal serius dan pelit senyum, tertawa hingga kelihatan giginya. Melemper guyon pada Presiden Soeharto dan penggantinya, Habibie, juga Megawati, sudah biasa dilakukan Gus Dur.
Dan Shimon Peres, tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Saya mendapat cerita ledekan Gus Dur pada Peres dari sastrawan terkemuka Ahmad Tohari. “Sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres tertawa hingga terbatuk-batuk,” cerita Tohari pada saya.

“Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis,” usul Gus Dur pada Shimon Peres.
“Kenapa, Pak Gus?” tanya Peres penasaran.
“Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua,” Gus Dur menjelaskan. Peres makin penasaran.
“Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, tali-tali pengikatnya dibuang dulu,” jelas Gus Dur tambah panjang.
“Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat???” tanya Peres. Rasa penasarannya makin menjadi-jadi.
“Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk pergi ke tembok ratapan,” terang Gus Dur enteng.
“Hahahaha…hahahahaha….hahahaha…” kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit

Humor NU

Seperti saat menggambarkan fanatisme orang NU, bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
"Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," jelasnya tentang jenis yang pertama. Unik Baca

Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU.”

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Orang NU Gila

Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.

Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.

Jumat, 12 Juli 2013

Semua Presiden RI KKN

Humor Gus Dur tentang Presiden Megawati KKN menghebohkan nusantara, sejak harian Jawa Pos melalui jaringan Jawa Pos Network-nya memuat pernyataan Gus Dur di Jawa Timur bahwa semua presiden RI KKN, dari presiden pertama hingga presiden Megawati.

Bermula dari khutbah pernikahan putra Hj. Diana Susilowati yang akrab dipanggil Ning Sus, di lingkungan Pondok Pesantren Zainul Hasan Pajarakan Probolingo Jawa Timur, Ahad (25/8/2002). Kendati ia berpidato di atas kwade (pentas penganten Jawa), namun belum satu menit berpidato, dia langsung membuat guyonan politik. Katanya, baik presiden yang pertama maupun yang terakhir ini semuanya KKN (tentu saja KKN dimaksudkan untuk istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

“Kok bisa?” tanya Gus Dur. “Ya, presiden pertama (Soekarno, red.) itu saya katakan Kanan Kiri Nona. Presiden kedua (Soeharto, red.), juga KKN, tapi yang ini Kanan Kiri Nabrak. Yang ketiga (Habibie, red.) malah lebih parah lagi, Kecil Kecil Nekad. Yang keempat anda sudah tahu semua, yakni Kanan Kiri Nuntun. Dan yang terakhir, yang satu ini (sambil tertegun beberapa saat) Kayak Kuda Nil.” Dan disambut tertawa gerr sekitar 4000-an hadirin.

Tertawa pun semakin berkepanjangan saat Wahid merinci, Kuda Nil itu memiliki ciri-ciri tertentu yakni bertubuh besar, senang berendam, kerang gerak dan jarang ngomong. “Saya kira, presiden yang sekarang ini (Megawati) ternyata KKN juga. Tetapi KKN-nya: Kayak Kuda Nil,” kata Wahid disambut tertawa dan tepuk tangan.


Sumber : http://arsitek-peradaban.abatasa.co.id