Sabtu, 13 Juli 2013

Ramalan untuk Gubenur Jateng

Seorang berwajah India mendatangi Gubernur Jawa Tengah waktu beliau sedang main golf. Kepada Pak Gub, si India berbisik dengan serius, “Saya berani pastikan sesuatu akan terjadi. Dalam waktu sebulan ini, pantat Bapak akan pelan-pelan berbentuk beringin dan berwarna kuning.”

Pak Gub kaget, mau marah, tapi si India berkata lagi: “Saya bisa meramal, Bapak, percayalah! Kalau dalam tempo sebulan ini pantat Bapak tidak berubah jadi berbentuk beringin dan menjadi kuning, saya akan mengaku kalah. Saya akan bayar Bapak Rp 100 juta.”

Gubernur Jawa Tengah yakin, si India akan kalah. “Oke, kita bertaruh saja! Kalau pantat saya berubah seperti kamu ramal, saya bayar kamu Rp 100 juta. Kalau udak berubah, kamu bayar saya Rp 100 juta!”

“Oke, oke. Kita bertaruh!”, jawab di India.

Semenjak itu, setiap pagi, sehabis mandi, sebelum ke kantor, Pak Gub diam-diam membuka celana dan melihat pantatnya sendiri di cermin.

Mengecek. Dia cemas juga, sebenarnya, jangan-jangan si India benar. Kadang-kadang dia memang melihat sedikit warna kuning di pantat nya sendiri, tapi alhamdulillah, bentuk itu pantat masih normal, belum jadi seperti beringin. Begitulah tiap hari dia bilang alhamdulillah bahwa pantatnya masih seperti dulu.

Pada akhir bulan, dia datang ke kantor pagi-pagi. Itu lah hari yang menentukan dia menang atau kalah. Tapi agak kaget juga dia, lantaran di ruang tunggu tamu pagi-pagi itu si India sudah duduk menanti. Juga agak heran Pak Gub kita, karena bersama si India ada seorang dengan wajah Cina, yang kemudian diperkenalkan kepadanya sebagai Bob Hassan.

Si India berbisik kepada Gubenur Jawa Tengah: “Bapak, kita berdua perlu wasit. Maka saya bawa Si Bob ini bersama saya pagi ini, untuk jadi wasit, mana di antara kita yang menang. Bapak setuju, ‘kan?”

Pak Gub setuju. Dia bersemangat, karena tadi pagi sebelum berangkat dia sudah mengadakan pengecekan atas kondisi pantat sendiri, dan tak ada perubahan yang nampak. Berarti di akan dapat uang.

Tapi kita ceritakan saja dulu bahwa mereka segera masuk ke dalam ruang duduk Pak Gub. Ajudan disuruh pergi, juga sekretaris. Yang ada di kamar itu cuma Pak Gub, si India, dan Bob Hasan.

Pak Gub pun naik ke atas meja. “Lihat!”, serunya dengan percaya diri sendiri. “Kalian lihat sendiri bagaimana pantatku!”. Dan Pak Gub di atas meja itu membuka celananya dan diperlihatkannyalah pantatnya kedepan kedua tamunya.

Si India nampak kecewa. Ia pun berbisik kepada Bob Hassan, yang segera pergi keluar dari ruangan. Lalu si India berkata kepada Gubernur Kita: “Bapak yang menang, saya yang kalah, saya bayar Bapak Rp. 100 juta. Kontan!”. Dan dari tas kulitnya dia keluarkan uang bundelan. Setelah dihitung, ada Rp 100 juta banyaknya.

Pak Gub berwajah sumringah. “Makanya jangan takabur. Sok pinter meramal!” begitu nasehat dan cemoohnya kepada si India. Lalu dia menyuruh si India keluar. Segera setelah itu, dia panggil sekretaris dan ajudannya. Dia mau traktir mereka makan di Hotel Santika dengan uang kemenangan mudah itu. Tapi dia lihat ajudannya gugup. Ada apa?

Ternyata sang ajudan melihat si India ketawa lebar ketika keluar dari ruang Pak Gub. “Gue menang!”, serunya kepada Bob Hasan yang masih duduk di ruang tunggu. “Lu harus bayar gue Rp 300 juta!”.

Adapun sebelum datang rupanya si India bertaruh dengan Bob Hasan: pagi itu dia akan bisa membuat Gubernur Jawa Tengah mempertontonkan pantatnya kepadanya.

Jendral Kuper

Tersebutlah tiga orang bersaudara. Seorang buruh tani dari Siantar, seorang konglomerat, dan seorang jenderal masih bersaudara. Sang konglomerat mengajak mereka ke restoran “steak” yang terkenal di Jakarta.

Tapi mereka datang agak terlambat. Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.

“Maaf, kami kekurangan daging impor,” kata sang pelayan.

Buruh tani bertanya, “Daging impor itu apa, sih?”

Si konglomerat bertanya, “Kekurangan itu apa?”

Sedangkan si jenderal bertanya, “Maaf itu apa?”


Beda Harmoko dan Madonna

Dua mahasiswa saling melemparkan tebakan untuk adu kepintaran. Si A bertanya pada B, “Apa perbedaan dan persamaan antara kepala Harmoko dan pantat penyanyi seksi, Madonna?”

“Ah gampang. Kalau kepala Harmoko itu belah pinggir, sedang pantat  Madonna belah tengah. Tapi isi keduanya sama,” sahut si B.

Si A pun manggut-manggut mengakui kepintaran temannya tersebut.

Sama-Sama Bego

Suyono dan Syarwan pergi mancing, mengikuti jejak Soeharto. Mereka menyewa satu perahu dan berangkat ke arah Pulau Seribu.

Di laut dekat Pulau Putri, mereka berhasil menangkap seekor ikan barakuda yang besar. Mereka saling bersalaman, saking gembira. “Ayo kita tandai laut itu, supaya kalau kita mancing lain kali bisa mudah menemukan tempatnya”, usul Syarwan. Suyono setuju. Ia pun mengambil cat hitam dan terjun ke laut, dan membuat satu huruf “X” di suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang bisa ia cat adalah dasar perahu.

Syarwan punya ide yang lebih bargus: “Yon, tandanya dibikin besar, dong. Biar ‘ntar mudah dicari kalau kita pakai perahu ini lagi.”

Akibat Tak Segera Bereaksi

Ada sebuah informasi yang baru kali ini dapat diperoleh. Dua hari setelah Ibu Tien meninggal, tujuh anggota pasukan pengaman presiden (Paspampres) ditahan dan diinterogasi oleh BIA. Soalnya, kata sumber yang layak dipercaya, ada kecurigaan: Ibu Tien kena serangan jantung, kenapa pasukan tidak segera mengadakan serangan balasan?

Teka-teki Suksesi

Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.

Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:

“Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”

Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.

Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.

“Pak Harmoko,’’ kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”

Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga.

Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”

Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”

Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. “Jadi tadi petunjuknya ...eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”.

Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”

Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.

Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”

Nanti Saya Laporkan

Seseorang pernah mendengar percakapan berikut ini dari balik pintu kamar. Kedengaran Mbak Tutut berkata kepada Hartono, “Ayo, copot bajuku”. (Lalu terdengar suara baju dicopot).

Tak lama kemudian, “Sekarang, copot kainku”. (Terdengar suara kain dilepas). Setelah itu, “Ayo, lepaskan kutangku. Juga celana dalamku!”.

Sehabis itu tak ada suara selama lima detik. Lalu terdengar suara Mbak Tutut marah, “Hartono, saya akan laporkan kepada Bapak kalau sekali lagi kamu berani memakai baju, kain, kutang dan celana dalam saya!”