Seorang berwajah India mendatangi Gubernur Jawa Tengah waktu beliau sedang main golf. Kepada Pak Gub, si India berbisik dengan serius, “Saya berani pastikan sesuatu akan terjadi. Dalam waktu sebulan ini, pantat Bapak akan pelan-pelan berbentuk beringin dan berwarna kuning.”
Pak Gub kaget, mau marah, tapi si India berkata lagi: “Saya bisa meramal, Bapak, percayalah! Kalau dalam tempo sebulan ini pantat Bapak tidak berubah jadi berbentuk beringin dan menjadi kuning, saya akan mengaku kalah. Saya akan bayar Bapak Rp 100 juta.”
Gubernur Jawa Tengah yakin, si India akan kalah. “Oke, kita bertaruh saja! Kalau pantat saya berubah seperti kamu ramal, saya bayar kamu Rp 100 juta. Kalau udak berubah, kamu bayar saya Rp 100 juta!”
“Oke, oke. Kita bertaruh!”, jawab di India.
Semenjak itu, setiap pagi, sehabis mandi, sebelum ke kantor, Pak Gub diam-diam membuka celana dan melihat pantatnya sendiri di cermin.
Mengecek. Dia cemas juga, sebenarnya, jangan-jangan si India benar. Kadang-kadang dia memang melihat sedikit warna kuning di pantat nya sendiri, tapi alhamdulillah, bentuk itu pantat masih normal, belum jadi seperti beringin. Begitulah tiap hari dia bilang alhamdulillah bahwa pantatnya masih seperti dulu.
Pada akhir bulan, dia datang ke kantor pagi-pagi. Itu lah hari yang menentukan dia menang atau kalah. Tapi agak kaget juga dia, lantaran di ruang tunggu tamu pagi-pagi itu si India sudah duduk menanti. Juga agak heran Pak Gub kita, karena bersama si India ada seorang dengan wajah Cina, yang kemudian diperkenalkan kepadanya sebagai Bob Hassan.
Si India berbisik kepada Gubenur Jawa Tengah: “Bapak, kita berdua perlu wasit. Maka saya bawa Si Bob ini bersama saya pagi ini, untuk jadi wasit, mana di antara kita yang menang. Bapak setuju, ‘kan?”
Pak Gub setuju. Dia bersemangat, karena tadi pagi sebelum berangkat dia sudah mengadakan pengecekan atas kondisi pantat sendiri, dan tak ada perubahan yang nampak. Berarti di akan dapat uang.
Tapi kita ceritakan saja dulu bahwa mereka segera masuk ke dalam ruang duduk Pak Gub. Ajudan disuruh pergi, juga sekretaris. Yang ada di kamar itu cuma Pak Gub, si India, dan Bob Hasan.
Pak Gub pun naik ke atas meja. “Lihat!”, serunya dengan percaya diri sendiri. “Kalian lihat sendiri bagaimana pantatku!”. Dan Pak Gub di atas meja itu membuka celananya dan diperlihatkannyalah pantatnya kedepan kedua tamunya.
Si India nampak kecewa. Ia pun berbisik kepada Bob Hassan, yang segera pergi keluar dari ruangan. Lalu si India berkata kepada Gubernur Kita: “Bapak yang menang, saya yang kalah, saya bayar Bapak Rp. 100 juta. Kontan!”. Dan dari tas kulitnya dia keluarkan uang bundelan. Setelah dihitung, ada Rp 100 juta banyaknya.
Pak Gub berwajah sumringah. “Makanya jangan takabur. Sok pinter meramal!” begitu nasehat dan cemoohnya kepada si India. Lalu dia menyuruh si India keluar. Segera setelah itu, dia panggil sekretaris dan ajudannya. Dia mau traktir mereka makan di Hotel Santika dengan uang kemenangan mudah itu. Tapi dia lihat ajudannya gugup. Ada apa?
Ternyata sang ajudan melihat si India ketawa lebar ketika keluar dari ruang Pak Gub. “Gue menang!”, serunya kepada Bob Hasan yang masih duduk di ruang tunggu. “Lu harus bayar gue Rp 300 juta!”.
Adapun sebelum datang rupanya si India bertaruh dengan Bob Hasan: pagi itu dia akan bisa membuat Gubernur Jawa Tengah mempertontonkan pantatnya kepadanya.
Tampilkan postingan dengan label Mati Ketawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mati Ketawa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Juli 2013
Jendral Kuper
Tersebutlah tiga orang bersaudara. Seorang buruh tani dari Siantar, seorang konglomerat, dan seorang jenderal masih bersaudara. Sang konglomerat mengajak mereka ke restoran “steak” yang terkenal di Jakarta.
Tapi mereka datang agak terlambat. Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.
“Maaf, kami kekurangan daging impor,” kata sang pelayan.
Buruh tani bertanya, “Daging impor itu apa, sih?”
Si konglomerat bertanya, “Kekurangan itu apa?”
Sedangkan si jenderal bertanya, “Maaf itu apa?”
Tapi mereka datang agak terlambat. Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.
“Maaf, kami kekurangan daging impor,” kata sang pelayan.
Buruh tani bertanya, “Daging impor itu apa, sih?”
Si konglomerat bertanya, “Kekurangan itu apa?”
Sedangkan si jenderal bertanya, “Maaf itu apa?”
Beda Harmoko dan Madonna
Dua mahasiswa saling melemparkan tebakan untuk adu kepintaran. Si A bertanya pada B, “Apa perbedaan dan persamaan antara kepala Harmoko dan pantat penyanyi seksi, Madonna?”
“Ah gampang. Kalau kepala Harmoko itu belah pinggir, sedang pantat Madonna belah tengah. Tapi isi keduanya sama,” sahut si B.
Si A pun manggut-manggut mengakui kepintaran temannya tersebut.
“Ah gampang. Kalau kepala Harmoko itu belah pinggir, sedang pantat Madonna belah tengah. Tapi isi keduanya sama,” sahut si B.
Si A pun manggut-manggut mengakui kepintaran temannya tersebut.
Sama-Sama Bego
Suyono dan Syarwan pergi mancing, mengikuti jejak Soeharto. Mereka menyewa satu perahu dan berangkat ke arah Pulau Seribu.
Di laut dekat Pulau Putri, mereka berhasil menangkap seekor ikan barakuda yang besar. Mereka saling bersalaman, saking gembira. “Ayo kita tandai laut itu, supaya kalau kita mancing lain kali bisa mudah menemukan tempatnya”, usul Syarwan. Suyono setuju. Ia pun mengambil cat hitam dan terjun ke laut, dan membuat satu huruf “X” di suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang bisa ia cat adalah dasar perahu.
Syarwan punya ide yang lebih bargus: “Yon, tandanya dibikin besar, dong. Biar ‘ntar mudah dicari kalau kita pakai perahu ini lagi.”
Di laut dekat Pulau Putri, mereka berhasil menangkap seekor ikan barakuda yang besar. Mereka saling bersalaman, saking gembira. “Ayo kita tandai laut itu, supaya kalau kita mancing lain kali bisa mudah menemukan tempatnya”, usul Syarwan. Suyono setuju. Ia pun mengambil cat hitam dan terjun ke laut, dan membuat satu huruf “X” di suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang bisa ia cat adalah dasar perahu.
Syarwan punya ide yang lebih bargus: “Yon, tandanya dibikin besar, dong. Biar ‘ntar mudah dicari kalau kita pakai perahu ini lagi.”
Teka-teki Suksesi
Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.
Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:
“Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”
Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.
Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.
“Pak Harmoko,’’ kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”
Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga.
Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”
Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”
Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. “Jadi tadi petunjuknya ...eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”.
Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”
Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.
Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”
Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:
“Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”
Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.
Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.
“Pak Harmoko,’’ kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”
Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga.
Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”
Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”
Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. “Jadi tadi petunjuknya ...eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”.
Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”
Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.
Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”
Nanti Saya Laporkan
Seseorang pernah mendengar percakapan berikut ini dari balik pintu kamar. Kedengaran Mbak Tutut berkata kepada Hartono, “Ayo, copot bajuku”. (Lalu terdengar suara baju dicopot).
Tak lama kemudian, “Sekarang, copot kainku”. (Terdengar suara kain dilepas). Setelah itu, “Ayo, lepaskan kutangku. Juga celana dalamku!”.
Sehabis itu tak ada suara selama lima detik. Lalu terdengar suara Mbak Tutut marah, “Hartono, saya akan laporkan kepada Bapak kalau sekali lagi kamu berani memakai baju, kain, kutang dan celana dalam saya!”
Tak lama kemudian, “Sekarang, copot kainku”. (Terdengar suara kain dilepas). Setelah itu, “Ayo, lepaskan kutangku. Juga celana dalamku!”.
Sehabis itu tak ada suara selama lima detik. Lalu terdengar suara Mbak Tutut marah, “Hartono, saya akan laporkan kepada Bapak kalau sekali lagi kamu berani memakai baju, kain, kutang dan celana dalam saya!”
Untung Bukan Malam Hari
Dua orang preman dan seorang Timor-Timur bertemu di penjara Cipinang, mereka semua sudah dijatuhi hukuman. Preman yang satu mengatakan dia dihukum 10 tahun karena mencoba membunuh seorang cukong. Tapi ia merasa beruntung karena pembunuhan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa kena 20 tahun.
Preman yang satu lagi bilang dia dihukum 5 tahun karena mencoba memperkosa istri penjual bakso, tapi dia merasa beruntung karena perkosaan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa masuk 10 tahun.
Orang Timor Timur bercerita dia dihukum 13 tahun karena kedapatan naik motor tanpa menyalakan lampu. Tapi untung, katanya, itu terjadi bukan waktu malam hari.
Preman yang satu lagi bilang dia dihukum 5 tahun karena mencoba memperkosa istri penjual bakso, tapi dia merasa beruntung karena perkosaan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa masuk 10 tahun.
Orang Timor Timur bercerita dia dihukum 13 tahun karena kedapatan naik motor tanpa menyalakan lampu. Tapi untung, katanya, itu terjadi bukan waktu malam hari.
Ingin Sampaikan Kabar Gembira
Hari Rabu pekan lalu seorang perempuan cantik datang ke Departemen Penerangan. Ia menemui petugas penerima tamu dan mengatakan niatnya: mau ketemu Menteri Penerangan Harmoko. Petugas pun memberitahu bahwa Harmoko sudah bukan Menpen.
Perempuan cantik itu kemudian pergi. Tapi satu jam kemudian dia muncul. “Saya ingin menghadap Pak Harmoko,” katanya kepada petugas yang sama. Dan petugas yang sama, dengan sedikit heran, tetap menerangkan bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menpen lagi.
Perempuan itu pun sekali lagi pergi. Anehnya, setengah jam kemudian dia muncul kembali ke petugas yang sama dan mengatakan hal yang sama: mau ketemu Pak Harmoko. Para petugas mulai curiga dan menganggap ada yang aneh di sini. Maka mereka melapor ke atasan. Dan laporan sampai ke Dirjen Subrata.
Karena jadi ingin tahu, Subrata menunggu sampai perempuan cantik itu muncul lagi. Benar juga. Si Dia datang, dan kembali meminta mau ketemu “Pak Harmoko, Menteri Penerangan”. Kali ini Subrata yang menerangkan, “Lho, kan Ibu sudah beberapa kali datang tadi, dan sudah berkali-kali kami beritahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Kok datang lagi, datang lagi?”
Jawab perempuan itu, “Itu dia, Pak. Saya datang berkali-kali supaya berkali-kali pula saya dengar kabar gembira itu.”
Perempuan cantik itu kemudian pergi. Tapi satu jam kemudian dia muncul. “Saya ingin menghadap Pak Harmoko,” katanya kepada petugas yang sama. Dan petugas yang sama, dengan sedikit heran, tetap menerangkan bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menpen lagi.
Perempuan itu pun sekali lagi pergi. Anehnya, setengah jam kemudian dia muncul kembali ke petugas yang sama dan mengatakan hal yang sama: mau ketemu Pak Harmoko. Para petugas mulai curiga dan menganggap ada yang aneh di sini. Maka mereka melapor ke atasan. Dan laporan sampai ke Dirjen Subrata.
Karena jadi ingin tahu, Subrata menunggu sampai perempuan cantik itu muncul lagi. Benar juga. Si Dia datang, dan kembali meminta mau ketemu “Pak Harmoko, Menteri Penerangan”. Kali ini Subrata yang menerangkan, “Lho, kan Ibu sudah beberapa kali datang tadi, dan sudah berkali-kali kami beritahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Kok datang lagi, datang lagi?”
Jawab perempuan itu, “Itu dia, Pak. Saya datang berkali-kali supaya berkali-kali pula saya dengar kabar gembira itu.”
Jangan di Depan Umum
Habibie selesai dioperasi jantung dengan sukses di Jerman (habis, di mana lagi). Dia pulang terbang ke Jakarta dengan Lufthansa. Sampai di bandara Cengkareng dia lihat, dari jendela pesawat , bahwa sudah banyak para pengagumnya menanti. Baik dari kalangan KMI mau pun dari BPPT.
Habibie tahu bahwa orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga nesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak. Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”
Habibie tahu bahwa orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga nesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak. Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”
Tentara Terkuat
Menurut seorang analis militer Singapura, angkatan bersenJata Indonesia adalah kekuatan militer paling kuat di dunia. Angkatan Darat-nya dengan mudah mengalahkan demonstran, Angkatan Udara-nya selalu berhasil membidik udara kosong, dan Angkatan Lautnya melumpuhkan kekuatan bonek. Sementara itu Kepolisian-nya dengan cepat bisa merobohkan para pemain bola dengan gas airmata.
Soeharto Bertemu Rasul Paulus
Pada saat hari penghakiman (kiamat) Rasul Paulus merasa perlu untuk mewawancara tokoh-tokoh dunia yang pernah melakukan pembunuhan massal, yaitu Adolf Hitler, Kaisar Nero, Pol Pot dan “the last but not least” Soeharto. Mereka dikumpulkan di hadapan Rasul Paulus.
“Tahukah Anda sekalian mengapa aku memanggil kalian? Karena aku ingin mendengar langsung dari kalian, apa yang pernah kalian lakukan terhadap sesama kalian saat kalian hidup sebagai pemimpin dan berkuasa dahulu,” ucap Rasul Paulus seraya menambahkan bahwa sebenarnya ia melakukan tugas wawancara ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Rasul Paulus mengungkap bahwa dirinya dipilih Tuhan - bukan Rasul Petrus atau lainnya - untuk mewawancara tokoh-tokoh tersebut, karena ia dan jemaatnya dahulu adalah korban keganasan/kebiadaban Kaisar Nero yang membunuhi umat Nasrani dan membakar habis kota Roma.
“Jadi aku minta satu per satu kalian menceritakan segala hal tentang peristiwa-perisıiwa pembantaian itu,” kata Rasul Paulus.
Dasar mantan diktator megalomania, keempat orang itu hampir berebut untuk menceritakan kisah-kisah yang diminta Rasul Paulus. Terpaksa Rasul Paulus menengahi. Disepakati urut-urutannya adalah Nero-Hitler-Pol Pot- Soeharto. Dasarnya adalah periodisasi waktu. Keempat tokoh tersebut
menyetujui jalan ke luar yang diambil Rasul Paulus.
“Tahukah Anda sekalian mengapa aku memanggil kalian? Karena aku ingin mendengar langsung dari kalian, apa yang pernah kalian lakukan terhadap sesama kalian saat kalian hidup sebagai pemimpin dan berkuasa dahulu,” ucap Rasul Paulus seraya menambahkan bahwa sebenarnya ia melakukan tugas wawancara ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Rasul Paulus mengungkap bahwa dirinya dipilih Tuhan - bukan Rasul Petrus atau lainnya - untuk mewawancara tokoh-tokoh tersebut, karena ia dan jemaatnya dahulu adalah korban keganasan/kebiadaban Kaisar Nero yang membunuhi umat Nasrani dan membakar habis kota Roma.
“Jadi aku minta satu per satu kalian menceritakan segala hal tentang peristiwa-perisıiwa pembantaian itu,” kata Rasul Paulus.
Dasar mantan diktator megalomania, keempat orang itu hampir berebut untuk menceritakan kisah-kisah yang diminta Rasul Paulus. Terpaksa Rasul Paulus menengahi. Disepakati urut-urutannya adalah Nero-Hitler-Pol Pot- Soeharto. Dasarnya adalah periodisasi waktu. Keempat tokoh tersebut
menyetujui jalan ke luar yang diambil Rasul Paulus.
Petani Tolak Penghargaan Soeharto
Dalam kesempatan kunjungan dinas, Soeharto dijadwalkan menuju Pekanbaru, Riau untuk mengadakan temu wicara. Seperti biasa, ia dan rombongan menggunakan pesawat udara kepresidenan. Tapi malang tak dapat ditolak, pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin dan terjatuh di suatu kawasan hutan di Sumatera Selatan.
Tapi keajaiban terjadi. Semua penumpang dan awak pesawat tewas, kecuali Soeharto yang hanya luka-luka cukup berat. Keberuntungan agaknya memang selalu lekat dengan kehidupan Soeharto, seperti ketika dahulu ia diselamatkan Jenderal Gatot Soebroto dan Jenderal Ahmad Yani dari kemungkinan di Mahmilubkan oleh Ketua PARAN Jenderal Nasution karena ketahuan menyelundupkan gula dan candu dengan bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan untuk membangun bisnis sepeda semasa menjabat Pangdam Diponegoro tahun 1960-an.
Seorang petani dan peladang yang saat itu sedang mencari kayu di hutan menemukan Soeharto yang sekarat. Petani yang bernama Dalimin itu lalu segera membawa dan menyelamatkan Soeharto yang sedang merintih kesakitan itu ke pondokannya di pinggir hutan. Petani tersebut tidak mengetahui siapa orang berambut putih agak gemuk yang ditolongnya.
Tapi keajaiban terjadi. Semua penumpang dan awak pesawat tewas, kecuali Soeharto yang hanya luka-luka cukup berat. Keberuntungan agaknya memang selalu lekat dengan kehidupan Soeharto, seperti ketika dahulu ia diselamatkan Jenderal Gatot Soebroto dan Jenderal Ahmad Yani dari kemungkinan di Mahmilubkan oleh Ketua PARAN Jenderal Nasution karena ketahuan menyelundupkan gula dan candu dengan bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan untuk membangun bisnis sepeda semasa menjabat Pangdam Diponegoro tahun 1960-an.
Seorang petani dan peladang yang saat itu sedang mencari kayu di hutan menemukan Soeharto yang sekarat. Petani yang bernama Dalimin itu lalu segera membawa dan menyelamatkan Soeharto yang sedang merintih kesakitan itu ke pondokannya di pinggir hutan. Petani tersebut tidak mengetahui siapa orang berambut putih agak gemuk yang ditolongnya.
Ingin di Kubur di Jerusalem
Merasa usianya kian uzur, Soeharto perlu membuat wasiat tempat di mana ia harus dikubur bila kelak mati. Mungkin ia terpengaruh berita yang gencar soal wasiat mendiang Presiden Soekarno yang berkeingnan agar dimakamkan di Kebun Raya Bogor.
Soeharto segera mengumpulkan para penasehat spiritual dan paranormal istana, menteri kabinet, pimpinan angkatan bersenjata, putra-putri dan para sahabatnya.
“Saya sudah tua, mungkin sebentar lagi saya mati. Menurut kalian sebaiknya jenasah daripada saya dimakamkan dimana?” tanya Soeharto dengan senyumnya yang khas.
“Bukankah menurut kesepakatan keluarga, Bapak akan dimakamkan disamping makam ibu di Astana Giri Bangun?” tanya Mbak Tutut.
Seperti biasa, Soeharto manggut-manggut. “Tidak, saya berubah pikiran,” katanya. Mbak Tutut dan anak-anak presiden yang lain terkejut, namun tidak berani memprotes.
“Kelak jika saya mati saya ingin dimakamkan di Bukit Golgota, di luar kota Jerusalem, tempat Nabi Isa disalibkan,” lanjut Soeharto dengan wajah yang serlus. Orang-orang yang hadir kontan terkejut dengan wasiat Soeharto ini.
Lukman Harun, tokoh Anti Zionis yang juga hadir tak bisa menyembunyikan rasa tidak setujunya. Apalagi Nabi Isa adalah Tuhan bagi orang Kristen.
“Bapak Presiden, ini tak mungkin dan amat berbahaya. Wilayah itu kan diduduki Zionis Israel dan kita sejak dulu anti-Zionis. Dunia Arab dan kelompok-kelompok anti-Zionis di tanah air akan marah kepada bapak jika ini terjadi. Dampaknyn akan terkena juga kepada putera-putera dan cucu bapak yang akan Bapak tinggalkan,” kata Lukman berapi-api
“Saudara Lukman. Itu sangat tidak mungkin. Karena setelah tiga hari saya dikuburkan, saya akan bangkit dan berkuasa lagi untuk selama-lamanya. Dan tak seorang pun akan punya nyali untuk mengusik daripada saya,” kata Soeharto.
Soeharto segera mengumpulkan para penasehat spiritual dan paranormal istana, menteri kabinet, pimpinan angkatan bersenjata, putra-putri dan para sahabatnya.
“Saya sudah tua, mungkin sebentar lagi saya mati. Menurut kalian sebaiknya jenasah daripada saya dimakamkan dimana?” tanya Soeharto dengan senyumnya yang khas.
“Bukankah menurut kesepakatan keluarga, Bapak akan dimakamkan disamping makam ibu di Astana Giri Bangun?” tanya Mbak Tutut.
Seperti biasa, Soeharto manggut-manggut. “Tidak, saya berubah pikiran,” katanya. Mbak Tutut dan anak-anak presiden yang lain terkejut, namun tidak berani memprotes.
“Kelak jika saya mati saya ingin dimakamkan di Bukit Golgota, di luar kota Jerusalem, tempat Nabi Isa disalibkan,” lanjut Soeharto dengan wajah yang serlus. Orang-orang yang hadir kontan terkejut dengan wasiat Soeharto ini.
Lukman Harun, tokoh Anti Zionis yang juga hadir tak bisa menyembunyikan rasa tidak setujunya. Apalagi Nabi Isa adalah Tuhan bagi orang Kristen.
“Bapak Presiden, ini tak mungkin dan amat berbahaya. Wilayah itu kan diduduki Zionis Israel dan kita sejak dulu anti-Zionis. Dunia Arab dan kelompok-kelompok anti-Zionis di tanah air akan marah kepada bapak jika ini terjadi. Dampaknyn akan terkena juga kepada putera-putera dan cucu bapak yang akan Bapak tinggalkan,” kata Lukman berapi-api
“Saudara Lukman. Itu sangat tidak mungkin. Karena setelah tiga hari saya dikuburkan, saya akan bangkit dan berkuasa lagi untuk selama-lamanya. Dan tak seorang pun akan punya nyali untuk mengusik daripada saya,” kata Soeharto.
Sumbangan Terbesar untuk Rakyat Indonesia
Kunjungan singkat Soeharto ke beberapa desa di Sulawesi Selatan menyenangkan hati bagi pemimpin yang sudah berkuasa 30 tahun itu. Masyarakat desa setempat menyambutnya dengan meriah. Umbul-umbul dipasang di jalan-jalan desa, bendera merah putih dikibarkan di setiap sudut desa. Tak lupa spanduk-spanduk yang berisi puji-pujian bagi Bapak Pembangunan ini bertebaran dimana-mana.
Soeharto benar-benar terharu. “Lihat, rakyat Indonesia masih mencintai saya,” katanya kepada Mensesneg Moerdiono yang setia mendampinginya
Singkat cerita, kunjungan berakhir membahagiakan. Soeharto bersama rombongan yang terdiri atas Mbak Tutut, Titiek Prabowo, Bob Hasan dan Moerdiono terbang dengan helikopter meninggalkan desa tersebut.
Di atas sebuah desa yang dilihat dari udara tampak miskin, Soeharto tampak tertegun. Di bawah tampak pemandangan ratusan warga desa melambai-lambaikan tangan menyambut heli rombongan Presiden yang berkenan melintas di atas desa mereka.
“Kasihan, miskin sekali desa itu,” kata Soeharto.
Lalu ia mengeluarkan uang pecahan Rp 50 ribu yang bergambar dirinya. Ketika ia hendak melemparkannya, Mbak Tutut mencegahnya. “Biarlah saya tukar dengan pecahan puluhan ribu agar ada lima orang yang bergembira menerimanya,” kata Mbak Tutut.
Titiek Prabowo yang mendengar usulan brilyan kakaknya itu segera menukas, “Kalau begitu saya tukarnya dengan pecahan lima ribuan agar ada sepuluh orang yang bergembira menerimanya.”
Bob Hasan pun ikut memberi usul. “Biarlah saya tukar saja dengan pecahan seribu agar ada lima puluh orang yang bergembira menerimanya,” kata konglomerat yang punya prestasi dibidang pembabatan hutan Indonesia itu.
Soeharto pun hanya manggut-manggut. Namun Moerdiono yang sejak tadi nampak jengkel kemudian memberi usulan pada Soeharto. “Mengapa bukan Bapak Presiden saja yang dilempar ke luar, agar ada 200 juta orang yang bergembira?”
Soeharto benar-benar terharu. “Lihat, rakyat Indonesia masih mencintai saya,” katanya kepada Mensesneg Moerdiono yang setia mendampinginya
Singkat cerita, kunjungan berakhir membahagiakan. Soeharto bersama rombongan yang terdiri atas Mbak Tutut, Titiek Prabowo, Bob Hasan dan Moerdiono terbang dengan helikopter meninggalkan desa tersebut.
Di atas sebuah desa yang dilihat dari udara tampak miskin, Soeharto tampak tertegun. Di bawah tampak pemandangan ratusan warga desa melambai-lambaikan tangan menyambut heli rombongan Presiden yang berkenan melintas di atas desa mereka.
“Kasihan, miskin sekali desa itu,” kata Soeharto.
Lalu ia mengeluarkan uang pecahan Rp 50 ribu yang bergambar dirinya. Ketika ia hendak melemparkannya, Mbak Tutut mencegahnya. “Biarlah saya tukar dengan pecahan puluhan ribu agar ada lima orang yang bergembira menerimanya,” kata Mbak Tutut.
Titiek Prabowo yang mendengar usulan brilyan kakaknya itu segera menukas, “Kalau begitu saya tukarnya dengan pecahan lima ribuan agar ada sepuluh orang yang bergembira menerimanya.”
Bob Hasan pun ikut memberi usul. “Biarlah saya tukar saja dengan pecahan seribu agar ada lima puluh orang yang bergembira menerimanya,” kata konglomerat yang punya prestasi dibidang pembabatan hutan Indonesia itu.
Soeharto pun hanya manggut-manggut. Namun Moerdiono yang sejak tadi nampak jengkel kemudian memberi usulan pada Soeharto. “Mengapa bukan Bapak Presiden saja yang dilempar ke luar, agar ada 200 juta orang yang bergembira?”
Sesama Setan
Setelah bermalam di Musdalifah, Soeharto beserta rombongan dan pengawalnya menuju Mina untuk melempar jumroh sebanyak tiga kali, yang disebut sebagai Ula, Wusta dan Aqobah. Bagian dari ibadat haji ini merupakan simbol dari upaya mengusir setan sebelum ke Masjidil Haram.
Begitu tiba di tempat melempar jumroh pada saat subuh, Pak Harto segera mengambil batu dan
melemparkannya kearah tiang tempat setan. Namus Soeharto dan rombongan sangat terkejut begitu batu yang dilemparkannya itu kembali kearah dirinya dari arah kegelapan. Untung anggota Paspampres yang berada di dekat Soeharto sigap menangkapnya.
Setelah bisa menguasai diri, Soeharto kembali mengambil batu dan melemparkannya sekali lagi ke arah tiang. Namun kali ini, batu yang dilempar kembali. Para anggota Paspampres segera menyebar. Semua anggota rombongan tegang. Mereka mengira ada anggota ekstrem kanan yang berniat membunuh Soeharto.
“He, siapa kamu yang melempar batu ke arah presiden? Saya perintahkan keluar. Cepat, atau saya tembak!” teriak kepala Paspampres.
Tunggu punya tunggu tak ada siapa pun yang tampak. Namun, tiba-tiba dari balik kegelapan tempat tiang setan terdengar suara, “He, sesama setan dilarang saling melempar batu!”
Begitu tiba di tempat melempar jumroh pada saat subuh, Pak Harto segera mengambil batu dan
melemparkannya kearah tiang tempat setan. Namus Soeharto dan rombongan sangat terkejut begitu batu yang dilemparkannya itu kembali kearah dirinya dari arah kegelapan. Untung anggota Paspampres yang berada di dekat Soeharto sigap menangkapnya.
Setelah bisa menguasai diri, Soeharto kembali mengambil batu dan melemparkannya sekali lagi ke arah tiang. Namun kali ini, batu yang dilempar kembali. Para anggota Paspampres segera menyebar. Semua anggota rombongan tegang. Mereka mengira ada anggota ekstrem kanan yang berniat membunuh Soeharto.
“He, siapa kamu yang melempar batu ke arah presiden? Saya perintahkan keluar. Cepat, atau saya tembak!” teriak kepala Paspampres.
Tunggu punya tunggu tak ada siapa pun yang tampak. Namun, tiba-tiba dari balik kegelapan tempat tiang setan terdengar suara, “He, sesama setan dilarang saling melempar batu!”
Masker
Sebuah pertemuan tingkat menteri ASEAN baru-baru ini diadakan di Jakarta. Acara yang digelar adalah membahas keganasan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra - yang menyebabkan orang-orang di Kuala Lumpur dan Serawak pada sesak nafas dan terpaksa memakai masker. Bahkan Perdana Menteri Mahathir, mungkin untuk mengejek Soeharto, juga memakai masker dalam berpidato di depan umum.
Selanjutnya dalam pertemuan Jakarta itu Menteri Lingkungan Hidup Sarwono datang. Yang menarik ialah bahwa ia satu-satunya yang memakai masker yang menutup hidung dan mulutnya. Koleganya dari Malaysia heran dan bertanya, “Kok you pakai masker seperti kami? Kan Jakarta tidak kena asap?”
Sarwono, lantaran memakai masker, tentu tidak bisa menjawab. Ia mengambil ballpointnya dan menulis di secarik kertas, “Ssttt. Mulut saya pakai masker bukannya sebab takut asap. Presiden menyuruh saya tutup mulut.”
Selanjutnya dalam pertemuan Jakarta itu Menteri Lingkungan Hidup Sarwono datang. Yang menarik ialah bahwa ia satu-satunya yang memakai masker yang menutup hidung dan mulutnya. Koleganya dari Malaysia heran dan bertanya, “Kok you pakai masker seperti kami? Kan Jakarta tidak kena asap?”
Sarwono, lantaran memakai masker, tentu tidak bisa menjawab. Ia mengambil ballpointnya dan menulis di secarik kertas, “Ssttt. Mulut saya pakai masker bukannya sebab takut asap. Presiden menyuruh saya tutup mulut.”
Ah, Itu Potret Penjahat
Suatu hari saat Syarwan Hamid dengan pengawalan ketat melakukan inspeksi ke sejumlah pemukiman di Baucau, Timor Timur. Di kawasan itu Syarwan keluar-masuk rumah penduduk dan memeriksa semua isi rumah secara detil. Rupanya Syarwan ingin menyaksikan bagaimana penduduk Timor Timur menata rumahnya, sekaligus seberapa jauh proses integrasi telah berhasil.
Di ruang tamu beberapa rumah penduduk Syarwan melihat terpampang gambar burung garuda dan potret Presiden Soeharto serta Wakil Presiden Try Sutrisno di sebelah kanan-kirinya.
“Wah, ternyata Bapa sudah sadar dengan arti integrasi ya. Dan rupanya Bapa sudah tahu bahwa presiden di Timor-Timur adalah Soeharto dan wakilnya adalah Try Sutrisno. Selamat Bapa,” ujar Syarwan sambil memberikan uang Rp 100 ribu.
Hal itu dilakukannya kepada setiap penghuni rumah yang diketahui memasang lambang garuda dan potret presiden dan wapres.
Kini giliran rumah Manuel yang dikenal sebagai anti-integrasi diinspeksi Syarwan dan rombongannya. Ketika masuk ke ruang tamu, Syarwan tampak tertegun melihat di ruang tamu rumah Manuel tergantung sebuah patung Yesus Kristus tengah disalib. Sedang di kanan-kirinya terpampang gambar Soeharto dan Try Sutrisno.
... Manuel dan istrinya sempat tegang. Tapi senyum Syarwan pun segera mengembang. “Tak saya sangka Bapa Manuel telah sadar dengan arti integrasi. Terima kasih bahwa Bapa telah menyejajarkan Pak Harto dan Pak Try dengan Yesus,” ujar Syarwan sambil memerintahkan anak buahnya menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu sebagai penghargaan kepada Manuel.
Ketika rombongan berlalu, datang tetangga Manuel bernama Mariano.
“Lho bukankah Bapa selama ini anti pada penindasan yang dijalankan oleh’’ penguasa Orde Baru? Apa betul Bapa menyejajarkan Soeharto dan Try Sutrisno dengan Yesus?” tanya Mariano.
“Ah siapa bilang. Itu kan kata si Syarwan. Apa yang ada di ruang tamu ini kan seperti adegan penyaliban di Golgota. Saat itu bersama Yesus, turut disalib dua orang penjahat di sebelah kiri dan kanannya,” jawab Manuel enteng.
Di ruang tamu beberapa rumah penduduk Syarwan melihat terpampang gambar burung garuda dan potret Presiden Soeharto serta Wakil Presiden Try Sutrisno di sebelah kanan-kirinya.
“Wah, ternyata Bapa sudah sadar dengan arti integrasi ya. Dan rupanya Bapa sudah tahu bahwa presiden di Timor-Timur adalah Soeharto dan wakilnya adalah Try Sutrisno. Selamat Bapa,” ujar Syarwan sambil memberikan uang Rp 100 ribu.
Hal itu dilakukannya kepada setiap penghuni rumah yang diketahui memasang lambang garuda dan potret presiden dan wapres.
Kini giliran rumah Manuel yang dikenal sebagai anti-integrasi diinspeksi Syarwan dan rombongannya. Ketika masuk ke ruang tamu, Syarwan tampak tertegun melihat di ruang tamu rumah Manuel tergantung sebuah patung Yesus Kristus tengah disalib. Sedang di kanan-kirinya terpampang gambar Soeharto dan Try Sutrisno.
... Manuel dan istrinya sempat tegang. Tapi senyum Syarwan pun segera mengembang. “Tak saya sangka Bapa Manuel telah sadar dengan arti integrasi. Terima kasih bahwa Bapa telah menyejajarkan Pak Harto dan Pak Try dengan Yesus,” ujar Syarwan sambil memerintahkan anak buahnya menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu sebagai penghargaan kepada Manuel.
Ketika rombongan berlalu, datang tetangga Manuel bernama Mariano.
“Lho bukankah Bapa selama ini anti pada penindasan yang dijalankan oleh’’ penguasa Orde Baru? Apa betul Bapa menyejajarkan Soeharto dan Try Sutrisno dengan Yesus?” tanya Mariano.
“Ah siapa bilang. Itu kan kata si Syarwan. Apa yang ada di ruang tamu ini kan seperti adegan penyaliban di Golgota. Saat itu bersama Yesus, turut disalib dua orang penjahat di sebelah kiri dan kanannya,” jawab Manuel enteng.
Nominasi Nobel
Ada cerita yang baru saja bocor dari Setneg. Begitu Setneg menerima telegram bahwa Ramos Horta dan Uskup Agung Belo terpilih untuk menerima Nobel Perdamaian tahun 1996, Moerdiono langsung panik. Benar juga, ia kemudian dipanggil oleh RI-1 dan didamprat habis-habisan, karena dianggap tidak becus melakukan lobby untuk memenangkan Hadiah Nobel bagi Soeharto.
Selidik punya selidik ternyata awal dari prahara ini adalah pada kesalahan seorang staf baru Setneg yang diperintahkan membuat semacam surat usulan ke Panitia Nobel. Karena ia sangat mengagumi Soeharto dan terpesona dengan liputan TV pada saat upacara pemakaman Ibu Negara yang bak prosesi pemakaman keluarga raja itu, ia menyimpulkan bahwa Soeharto adalah bangsawan.
Di application form-nya ditulisnya gelar bangsawan Raden Mas didepan nama beliau, yakni R(aden) M(as) S. Harto yang rupanya salah dibaca oleh Panitia Nobel sebagai singkatan nama Ramos Horta.
Selidik punya selidik ternyata awal dari prahara ini adalah pada kesalahan seorang staf baru Setneg yang diperintahkan membuat semacam surat usulan ke Panitia Nobel. Karena ia sangat mengagumi Soeharto dan terpesona dengan liputan TV pada saat upacara pemakaman Ibu Negara yang bak prosesi pemakaman keluarga raja itu, ia menyimpulkan bahwa Soeharto adalah bangsawan.
Di application form-nya ditulisnya gelar bangsawan Raden Mas didepan nama beliau, yakni R(aden) M(as) S. Harto yang rupanya salah dibaca oleh Panitia Nobel sebagai singkatan nama Ramos Horta.
Bank Kebal Likuidasi
Di tengah terjadinya kepanikan dan rush yang dialami nasabah dan bank di Indonesia menyusul likuidasi 16 bank oleh Menkeu dan Gubernur BI, beredar kabar bahwa ada sejumlah bank yang aman dari ancaman likuidasi susulan. Setidaknya bank-bank tetsebut tak akan dilikuidasi secara bersamaan. Bank tersebut antara lain adalah Bank PANIN, Bank TATA, Bank BUKOPIN dan Bank HASTIN.
Apa pasalnya?
Selidik punya selidik, ternyata Soeharto berkeberatan bila bank-bank tersebut dilikuidasi akan berakibat dengan munculnya berita “PANTAT BU TIN (baca: TIEN) DILIKUIDASI”.
Apa pasalnya?
Selidik punya selidik, ternyata Soeharto berkeberatan bila bank-bank tersebut dilikuidasi akan berakibat dengan munculnya berita “PANTAT BU TIN (baca: TIEN) DILIKUIDASI”.
Melangkahi Mayat Tien
Beberapa bulan setelah ditinggal mati Tien, Soeharto sering berkunjung secara periodik ke Astana Giri Bangun dimana Tien dikuburkan. Beberapa pengawal pribadi yang kebetulan melihat, menceritakan bahwa Soeharto ternyata berkali-kali melangkahi makam Tien.
Usut punya usut, ternyata penyebabnya adalah semasa hidupnya, Tien pernah berkata kepada Soeharto bahwa kalau suaminya mau menyeleweng atau beristeri lagi, Tien berujar bahwa Soeharto harus melangkahi mayatnya dulu. Rupanya Soeharto sangat patuh dengan pesan isterinya itu. Jadi itulah kenapa dia sering melangkahi mayat isterinya sekarang, karena kebutuhan alamiah sebagai seorang lelaki tak tertahankan.
Usut punya usut, ternyata penyebabnya adalah semasa hidupnya, Tien pernah berkata kepada Soeharto bahwa kalau suaminya mau menyeleweng atau beristeri lagi, Tien berujar bahwa Soeharto harus melangkahi mayatnya dulu. Rupanya Soeharto sangat patuh dengan pesan isterinya itu. Jadi itulah kenapa dia sering melangkahi mayat isterinya sekarang, karena kebutuhan alamiah sebagai seorang lelaki tak tertahankan.
Langganan:
Postingan (Atom)